26/ 9/ 2017



Surveyor KARS Akreditasi RSUP
Berita Tgl 3 February, 2017

469 Pada hari pertama pembukaan kegiatan akreditasi diawali dengan Presentasi oleh Direktur / Pemimpin BLUD Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi Kepulauan Riau Tanjungpinang dr. Muchtar L. Munawar, Sp.P dan kemudian
Read More...


Kasus Medis 2016 di Indonesia: Dari Chiropractic Hingga Vaksin Palsu
Berita Tgl 21 December, 2016

466 JAKARTA, KOMPAS.com - Sepanjang tahun 2016, ada beberapa masalah kesehatan yang juga menjadi persoalan hukum di Indonesia. Awal bulan Januari, terdapat kasus meninggalnya wanita muda setelah menjalani terapi chiropractic. Tak lama kemudian,
Read More...

tarif
konsul
saran
dokter




Pooling RSUD Provinsi Kepulauan Riau

 

Anda Pengunjung ke-


Penelitian Sebut Tidak Ada Istilah \'Terlalu Tua untuk Berhenti Merokok\'


234 13 December, 2016
Jakarta, Begitu sudah lanjut usia, rasanya sia-sia saja berhenti merokok. Tetapi pemahaman ini salah kaprah lho, sebab masih ada manfaatnya. Setidaknya hal ini dipastikan oleh peneliti dari Amerika Serikat. Menurutnya, seseorang yang baru berhenti merokok di usia 60-an setidaknya masih punya peluang untuk hidup lebih lama daripada rekan-rekan seusianya yang terus merokok. Sehingga sebenarnya tidak ada istilah \'terlalu tua untuk berhenti merokok\' dan tidak ada kata terlambat untuk mulai menghentikannya. Simpulan ini didasarkan pada jawaban kuesioner dari 160.000 lebih partisipan berusia di atas 70 tahun. Mereka ditanya tentang riwayat merokok di tahun 2004-2005 lalu ditindaklanjuti hingga akhir tahun 2011 untuk mengetahui siapa yang masih bertahan.
Dari studi yang sama juga ketahuan cara terbaik untuk berhenti merokok adalah dengan berhenti sama sekali. Bila dibandingkan dengan mereka yang bukan perokok, hanya 12 persen yang meninggal di akhir studi. Sedangkan perokok yang masih belum berhenti dan dilaporkan meninggal di akhir studi sebanyak 33 persen. Akan tetapi makin dini partisipan berhenti merokok, makin besar peluangnya untuk bertahan hidup. Terhitung dari partisipan yang berhenti di usia 30-an, hanya 16 persen yang meninggal di akhir studi; begitu pula pada partisipan yang berhenti di usia 40-an sebanyak 20 persen; 24 persen di usia 50-an; dan 28 persen di usia 60-an.


\"Meski demikian mereka yang berhenti di usia 60-an berisiko 23 persen lebih rendah untuk meninggal di akhir studi ketimbang yang masih merokok sampai saat ini,\" tandas peneliti, Sarah Nash yang juga seorang ahli epidemiologi, seperti dilaporkan NPR. Trennya pun tetap sama, apapun penyakit yang dilaporkan menyebabkan kematian partisipan, semisal kanker paru, penyakit jantung maupun gangguan pernapasan.

Nash juga menekankan pentingnya untuk tidak mencoba merokok sejak awal. Sebab sebagian besar perokok memulai kebiasaannya ini di usia remaja, padahal makin dini merokok, makin tinggi peluangnya untuk meninggal saat studi masih berlangsung. Hal senada juga pernah diutarakan dr Elisna Syahruddin, PhD, SpP(K) dari RSUP Persahabatan beberapa waktu lalu. Semisal dalam kaitannya dengan risiko kanker paru.
Memang faktor risiko kanker paru bisa saja muncul dari usia atau riwayat kanker dalam keluarga. Tetapi mematikan rokok saat ini juga, bisa berdampak nyata pada penurunan risiko kanker paru. \"Kalau belum merokok, jangan merokok. Kalau sudah merokok, berhenti merokok. Nggak usah pakai metode macam-macam, yang penting niat,\" tegas dr Elisna Syahruddin seperti diberitakan detikHealth sebelumnya.
Sumber:www.detikhealth.com


<-- Kembali || Index Artikel-->