23
Oct

Bedah Minimal Invasif Pada Kasus Batu Empedu

  • Author: dr. Viator Bongor M.N,Sp.B

Seiring dengan perkembangan teknologi, dunia kedokteran juga mengalami perkembangan yang pesat, terutama dibagian bedah. Sering kita mendengar pasien dioperasi dengan luka yang kecil, dioperasi dengan laser, ada juga dengan robot yang dikendalikan jarak jauh. Dalam dunia bedah kita sebut itu Bedah minimal invasif (Invasif Minimally Surgery). Bedah minimal invasive merupakan suatu tindakan yang dilakukan oleh seorang ahli bedah hanya dengan jumlah dan sayatan luka yang lebih sedikit dan lebih kecil dibanding dengan operasi biasa. Untuk operasi dibagian dalam perut (Digestif) hampir seluruhnya sudah dapat dilakukan dengan bedah minimal, dari batu empedu, usus buntu, tumor hingga potong lambung sebagai salah satu cara untuk menguruskan badan, dan semua hanya dengan luka yang kecil. Saat ini RSUD Raja Ahmad Tabib telah memiliki alat yang dapat menunjang teknologi tersebut yaitu laparokopik, sehingga warga Kepulauan Riau khususmya di Tanjungpinang dapat memanfaatkan pelayanan yang maksimal untuk kasus-kasus bedah yang diperlukan. Pada saat ini hanya beberapa kasus yang bisa atau dapat kita kerjakan dengan laparoskopik salah satunya adalah kasus batu empedu. Berbicara mengenai batu empedu, tidak ada salah nya jika kita mengetahui sedit apa saja gejala yang dapat kita rasakan, salah satunya adalah nyeri perut mendadak yang menjalar hingga ke punggung bagian belakang atau Nyeri setelah makan ataupun ketika sedang tidur terbangun karena nyeri yang sama. Itu merupakan tanda mengalami kolik bilier atau gejala sumbatan batu empedu, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter terdekat. Kantung empedu adalah tempat menampung cairan empedu, dan cairan empedu berfungsi untuk melarutkan lemak-lemak yang kita makan sehingga gampang untuk diserap oleh tubuh. Oleh karena proses yang kompleks, cairan empedu tersebut dapat menjadi batu, mulai dari awalnya berbentuk butiran-butiran pasir hingga lama kelamaan bisa menjadi batu yang sangat besar. Jumlah batu juga bervariasi bisa hanya satu batu hingga puluhan batu di dalam kantung. Apa faktor risiko batu empedu? Jenis kelamin adalah salah satu faktor, perempuan lebih besar untuk menderita batu empedu 2x lebih banyak dari laki-laki. Diketahui salah satu penyebab kenapa wanita lebih besar adalah akibat pengaruh hormonal. Usia juga menjadi faktor risko, pada umumnya diatas 40 tahun risiko untuk terkena batu empedu mulai meningkat, Berat badan juga memiliki andil untuk risiko batu empedu, pasien dengan berat badan berlebih atau kegemukan memiliki risiko lebih besar terkena batu empedu. Bagaimana gejala batu empedu ? Hampir 80% pasien dengan batu empedu tidak memberikan gejala. Sisanya memberikan gejala dari yang ringan hingga berat. Gejala yang paling sering adalah rasa tidak nyaman di perut bagian atas, sering hilang timbul, menjalar ke punggung belakang. Terkadang rasa kembung sehabis makan disertai rasa tidak nyaman. Pada umumnya pasien menggangap sebagai sakit maag biasa, minum obat warung dan berkurang nyerinya. Terkadang nyeri diikuti rasa mual dan muntah. Untuk kasus yang berat gejala dapat disertai demam dan kuning seluruh badan. jika ada yang pernah mengalami gejala seperti di atas, ada baiknya datang ke dokter atau rumah sakit terdekat untuk dilakukan pemeriksaan. Pemeriksaan penunjang pilihan untuk pasien-pasien dengan gejala batu empedu dengan USG (Ultrasonography). USG memiliki kemampuan untuk medeteksi batu yang ada didalam kantung empedu Bagaimana pengobatan batu empedu? Untuk pengobatan batu empedu ada 2 pilihan, dengan non-operasi atau dengan operasi. Operasi dilakukan pada pasien dengan : 1. Batu empedu yang sudah menimbulkan gejala dari yang sedang hingga hebat (penyumbatan) seperti nyeri, mual muntah, radang kadung empedu, pankreatitis, sakit kuning (jaundice obtruktif) 2. Pada pasien dengan batu empedu tidak ada keluhan, akan tetapi jauh dari Rumah Sakit, ini contohnya seperti pasien-pasien di pulau-pulau yang jauh, tentara yang dinas terpencil atau berperang, dan profesi vital lainnya, karena sangat berbahaya jika sedang melakukan aktivitas terjadi seranga nyeri hebat 3. Pasien yang gagal dengan terapi non-operasi, sudah minum obat dalam jangka waktu tertentu akan tetapi batu masih ada. Pada saat ini pilihan operasi minimal invasive adalah pilihan pertama untuk teknik operasi pada pasien dengan batu empedu. Dengan laparoskopi cholesitektomi banyak keuntungan yang didapatkan, antara lain, Nyeri lebih sedikit setelah operasi, Bekas luka tidak terlalu besar, Lama perawatan tidak lama, jadi lebih cepat untuk keluar dari RS Pemulihan lebih cepat Bagaimana menghindari/menurunkan risiko terkena batu empedu? Salah satu cara untuk menurukan risiko terkena batu empedu adalah dengan cara: 1. berolahraga yang rutin, 2. jagalah berat badan normal, 3. makanlah makanan tinggi serat dan rendah lemak. Terutama di daerah yang dikelilingin oleh laut, makanan seafood yang tinggi lemak dan kolesterol sangatlah menggoda. Ada beberap penelitian kontroversi menyatakan, orang yang minum kopi, risiko batu empedu lebih kecil daripada yang tidak minum kopi. Prinsip mencegah lebih baik daripada mengobati harus selalu dipegang teguh, selalu jaga kesehatan, jika ada keluhan segeralah berobat ke dokter ataupun rumah sakit terdekat.