23
Jan

Polusi Udara Jadi Ancaman Global, Apa Bahayanya?

  • Author: www.tempo.co.id

World Health Organization (WHO) memasukkan polusi udara sebagai salah satu tantangan kesehatan global sepanjang 2019 yang harus menjadi prioritas negara-negara di seluruh dunia. Polusi udara dianggap sebagai dalang dari meningkatnya penderita kanker, penyakit paru-paru dan pernapasan, serta penyakit jantung di seluruh dunia. Data WHO menyebutkan sembilan dari sepuluh penduduk bumi menghirup udara yang terkontaminasi polusi setiap hari. "Polusi udara merupakan risiko lingkungan terbesar yang paling berbahaya bagi kesehatan," kata Direktur Umum WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus. Saking berbahayanya, dia menyebutkan polusi udara sebagai 'the new tobacco'. Polutan mikroskopis di udara dapat menembus sistem pernapasan dan peredaran darah yang mengakibatkan kerusakan pada paru-paru, jantung, dan otak. Setiap tahunnya, polusi udara menyumbang kematian tujuh juta orang karena kanker dan penyakit lainnya yang dipicu oleh polusi udara. Dalam tiga tahun terakhir, WHO mencatat tingkat polusi udara meningkat hampir dua kali lipat. Sebanyak 97 persen kota-kota di negara-negara berpenghasilan rendah memiliki kualitas udara buruk yang tidak memenuhi pedoman kualitas udara WHO. “Ketika kualitas udara menurun, risiko stroke, jantung, kanker paru-paru, dan penyakit pernapasan kronik dan akut, termasuk asma akan meningkat,” kata dia.ADVERTISEMENT Menurut Ghebreyesus, penyebab utama pencemaran udara adalah pembakaran bahan bakar fosil. Dan pembakaran bahan bakar fosil ini pula yang merupakan kontributor utama perubahan iklim yang mengancam kesehatan manusia. WHO memperkirakan perubahan iklim akan menyebabkan 250 ribu kematian tambahan per tahun yang berasal dari kekurangan gizi, malaria, diare, dan stres akibat cuaca panas, sepanjang tahun 2030-2050. Pada Oktober 2018 lalu, WHO mengadakan Konferensi Global pertama tentang Polusi Udara dan Kesehatan di Jenewa untuk membahas masalah ini. Hasilnya, ada 70 komitmen untuk meningkatkan kualitas udara. Namun, meski komitmen ini tercapai sepenuhnya, bumi tetap akan menghangat lebih dari 3 derajat celsius pada abad ini. *Sumber : Tempo.co.id