29
May

Menjaga Kesehatan Mental Lansia di Masa Pandemi Covid-19

  • Author: SubbagInformasidanPemasaran_ZAO

Menurut World Health Organisation (WHO), lansia adalah seseorang yang telah memasuki usia 60 tahun keatas. Lansia merupakan kelompok umur pada manusia yang telah memasuki tahapan akhir dari fase kehidupannya. Tidak hanya kesehatan fisik, lansia juga perlu menjaga kesehatan mental, karena dengan kesehatan mental yang baik dapat mendukung terjaganya kesehatan fisik. Pandemi, seperti pandemi Covid-19 memang merupakan suatu kondisi yang tidak biasa. Kondisi seperti ini bisa menghadirkan beban pikiran yang bisa menyebabkan pikiran negatif bertambah, seperti menambah beban perasaan cemas, takut, dan memunculkan perilaku tidak biasa. Dalam kondisi ini, lansia bukan hanya merupakan kelompok yang rentan terhadap penularan Covid-19 itu sendiri, tetapi juga dampak kesehatan mental dan psikososial. Inter-Agency Standing Committee (IASC) atau forum antar-lembaga mitra kemanusiaan PBB, mengeluarkan panduan Aspek Kesehatan Jiwa dan Psikososial Wabah Covid-19. Salah satu aspek yang ditekankan adalah panduan penanganan untuk menjaga kesehatan mental lansia selama masa pandemi Covid-19. Berikut adalah beberapa panduan menjaga kesehatan mental lansia selama pandemi Covid-19: 1. Beri dukungan emosional dan sampaikan fakta-fakta sederhana dan informasi yang jelas dengan bahasa yang dapat dimengerti lansia. Sampaikan berulang jika perlu kepada warga lansia, terutama yang di isolasi dan yang mengalami penurunan kognitif/demensia. 2. Memastikan adanya langkah-langkah keamanan guna mencegah infeksi satu sama lain dan merebaknya kekhawatiran atau panik yang berlebihan, terutama kepada warga lansia di panti. 3. Berikan perhatiaan lebih kepada lansia yang hidup sendiri/tanpa keluarga dekat; dari status sosio-ekonomi rendah dan/atau penyandang penyakit lainnya, seperti penurunan kognitif/demensia atau kondisi kesehatan jiwa lainnya; - Kebutuhan medis lansia termasuk akses obat-obatan yang tidak terputus. Layanan medis telemedicine atau online dapat digunakan untuk memberikan layanan medis. 4. Berikan informasi yang benar tentang faktor-faktor risiko dan kemungkinan kesembuhan kepada lansia terisolasi atau terinfeksi. 5. Berikan pelatihan/konseling bagi lansia selama karantina, sesuaikan layanan rumah perawatan (respite care service) atau perawatan di rumah agar menggunakan teknologi (WeChat, WhatsApp, dll). - Akses warga lansia pada aplikasi perpesanan mungkin terbatas. - Beri lansia informasi akurat yang mudah dipahami. - Informasi harus mudah diakses dan dari sumber terpercaya. - Cara terbaik menghubungi warga lansia adalah melalui telepon rumah atau kunjungan berkala. Ajari lansia menggunakan panggilan video. - Panduan penggunaan alat perlindungan perlu disampaikan secara jelas padat, sopan dan sabar. 6. Bantu lansia menggunakan layanan daring; - Berikan petunjuk terperinci cara mendapatkan bantuan praktis. - Distribusi barang dan jasa seperti perlengkapan pencegahan penularan, bahan belanjaan yang cukup, dan akses transportasi kedaruratan dapat mengurangi keresahan sehari-hari. - Beri lansia latihan fisik sederhana agar tetap aktif bergerak dan mengurangi kebosanan. 7. Semangati lansia yang memiliki keahlian, pengalaman dan kekuatan untuk menjadi sukarelawan. Lansia dapat memberikan dukungan, memantau lingkungan, dan menjaga anak-anak untuk petugas yang harus berada di rumah sakit melawan COVID-19. Pada tanggal 29 Mei setiap tahunnya menjadi hari yang penting. Sebab 29 Mei diperingati sebagai Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN). Pada peringatan Hari Lansia Nasional ini masih mengangkat tema Masyarakat Bahagia; dengan Sub Tema Bidang Kesehatan: Lansia Sehat Mandiri diwujudkan dari Keluarga Sehat. Hari Lansia ini bisa menjadi momen untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kesehatan yang dimulai dari keluarga dengan menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Selamat Hari Lanjut Usia Nasioanal 2020, Lansia Sehat, Bahagia, Mandiri, Semangat dan Hebat untuk Indonesia.