17
Sep

ATASI DAMPAK HOSPITALISASI PADA ANAK SAKIT DENGAN TERAPI BERMAIN

  • Author: Ns.EKO OKTALVIANO,S.Kep

Rumah Sakit Umum Daerah Raja Ahmad Tabib Provinsi Kepuluaun Riau terus mengembangkan inovasi pelayanan publik dalam rangka peningkatan komitmen mutu rumah sakit. Diantaranya adalah melakukan inovasi dalam memfasilitasi dampak hospitalisasi pada anak yang sedang dalam perawatan rawat inap di rumah sakit. Inovasi yang dilakukan adalah dengan memberikan terapi bermain karena bermain adalah salah satu aspek penting dari kehidupan anak dan salah satu alat paling efektif untuk mengatasi stres pada anak. Hospitalisasi menimbulkan krisis dalam kehidupan anak yang sering disertai stress berlebihan. Hal ini menyebabkan anak memerlukan terapi bermain untuk mengalihkan / menghilangkan rasa takut dan cemas sebagai alat koping mekanisme dalam menghadapi stress. Terapi bermain merupakan suatu bentuk permainan anak-anak, dimana mereka dapat berhubungan dengan orang lain, saling mengenal, sehingga dapat mengungkapkan perasaannya sesuai dengan kebutuhan mereka. Terapi bermain merupakan terapi yang diberikan dan digunakan anak untuk menghadapi ketakutan, kecemasan dan mengenal lingkungan, belajar mengenai perawatan dan prosedur yang dilakukan terkait pelayanan yang di berikan. Terapi bermain merupakan salah satu aspek penting dari kehidupan anak dan salah satu alat paling efektif untuk mengatasi stress anak ketika dirawat di rumah sakit. Hospitalisasi menimbulkan krisis dalam kehidupan anak dan sering disertai stress berlebihan, maka anak-anak perlu bermain untuk mengeluarkan rasa takut dan cemas yang mereka alami sebagai alat koping dalam menghadapi stress. Terapi bermain sangat penting bagi mental, emosional, dan kesejahteraan sosial anak. Seperti kebutuhan perkembangan mereka, kebutuhan bermain tidak berhenti pada saat anak-anak sakit atau di rumah sakit. Sebaliknya, bermain di rumah sakit memberikan manfaat utama yaitu meminimalkan munculnya masalah perkembangan anak, selain itu tujuan terapi bermain adalah untuk menciptakan suasana aman bagi anak-anak untuk mengekspresikan diri mereka, memahami bagaimana sesuatu dapat terjadi, mempelajari aturan sosial dan mengatasi masalah mereka serta memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk berekspresi dan mencoba sesuatu yang baru. Adapun tujuan terapi bermain di rumah sakit adalah agar anak dapat melanjutkan fase tumbuh kembang secara optimal, mengembangkan kreativitas anak sehingga anak dapat beradaptasi lebih efektif terhadap stress. Terapi bermain dapat membantu anak menguasai kecemasan dan konflik karena ketegangan akan berkurang dengan permainan, anak dapat menghadapi masalah kehidupan, memungkinkan anak menyalurkan kelebihan energi fisik dan melepaskan emosi yang tertahan. Selain itu, terapi bermain mampu meningkatkan kerjasama anak dengan petugas kesehatan selama perawatan. Terapi bermain di rumah sakit bermanfaat untuk memberikan pengalihan dan menimbulkan relaksasi. Hampir semua bentuk bermain dapat digunakan untuk pengalihan dan relaksasi, tetapi aktivitas tersebut harus dipilih berdasarkan usia, minat, dan keterbatasan anak. Anak-anak tidak memerlukan petunjuk khusus, tetapi bahan mentah untuk digunakan, dan persetujuan serta pengawasan. Anak kecil menyukai berbagai mainan yang kecil dan berwarna-warni yang dapat mereka mainkan di tempat tidur dan menjadi bagian dari ruang bermain di rumah sakit. Kegiatan terapi bermain telah dilaksanakan oleh perawat Ruang Anyelir, yang juga merupakan peserta Program Aktulisasi Pelatihan Dasar CPNS Kepri 2019, dapat dilaksanakan di kamar pasien untuk pasien dengan ketidakmampuan melakukan mobilisasi di tempat tidur yaitu kegiatan mewarnai dan melipat kertas origami. Pasien yang memiliki kemampuan mobilisasi dikumpulkan di ruang bermain untuk melaksanakan terapi bermain. Dalam kesempatan ini juga dihadiri oleh Kepala Ruangan Rawat Inap Anak (Ruang Anyelir), Ns. Sriwulan Afriandani, S. Kep., dan Kepala Sub Bagian Kepegawaian RSUD Raja Ahmad Tabib yang merupakan Mentor Peserta Aktualisasi, Dian Juni Ekasari, SST., SKM., M. Keb. Kegiatan terapi bermain diawali dengan tahap orientasi, perawat mengucapkan salam, memperkenalkan diri, menjelaskan tujuan dan manfaat terapi bermain serta menjelaskan kontrak waktu kegiatan terapi bermain dengan bahasa yang santun dan mudah dipahami oleh anak-anak, selain itu juga pasien yang mengikuti terapi bermain ikut memperkenalkan diri masing-masing. Kemudian pada tahap kerja perawat membagikan peralatan yang akan digunakan anak untuk bermain misal gambar atau kertas origami, dan pensil warna, kemudian memfasilitasi anak untuk mewarnai atau melipat kertas tanpa membedekan anak satu dan lainnya, memberikan reinforcement atau penghargaan dengan tulus terhadap hasil kerja pasien, memfasilitasi pasien sampai dengan kegiatan mewarnai atau melipat kertas selesai sesuai dengan kontrak waktu yang telah disepakati. Kegiatan ditutup dengan menanyakan perasaan pasien setelah mengikuti kegiatan terapi bermain. Kegiatan terapi bermain dapat terus dikembangkan dengan menambah kelengkapan alat bermain di ruang bermain, penambahan fasilitas yang dapat menunjang kenyamanan anak dalam bermain, serta pelaksanaan terapi bermain yang dilaksanakan secara rutin dan terjadwal. (RSUD Raja Ahmad Tabib).